Wisudawan Pascasarjana Terbaik IAIN Kediri 2019

wisudawan terbaik iain kediri
Rasa bangga, bahagia, serta haru tergambar dari wajah ratusan wisudawan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri, kemarin. Pelukan dari keluarga, teman, hingga orang terdekat juga banyak terlihat dari dalam hingga luar gedung wisuda IAIN di Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan/Kota Kediri. Tak terkecuali wisudawan pascasarjana terbaik kali ini, Nurlelah. Selain menjadi yang terbaik pada wisuda Juni 2019 ini, Nurlelah juga merupakan wisudawan yang memiliki usia paling tua. Di antara 476 wisudawan yang diwisuda oleh Rektor IAIN Kediri Nur Chamid.

Meski sudah berumur 45 tahun, Ela, sapaan akrabnya, masih memiliki semangat yang masih ia simpan di tahun 1997 silam. Yaitu saat dia diwisuda di IAIN Bandung. “Daridulu memang pengennya, setelah lulus S1 lanjut S2,” ujarnya.

Hanya, impian Ela untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi itu harus menunggu 20 tahun lamanya. Ia menceritakan bahwa dalam rentang 20 tahun ia tidak segera mengambil kesempatannya kuliah pascasarjana. Ada beberapa kendala. Salah satunya adalah faktor ekonomi.

Karena itu ibu tiga anak ini berusaha mencari beasiswa. Tentu banyak yang harus dia penuhi sebagai syarat. Salah satunya adalah kompetensi di bidang bahasa Inggris.

Untuk melanjutkan studi ke magister PAI, Ela menjelaskan bahwa salah satu syaratnya adalah mahir berbahasa Inggris dan bahasa Arab. Menurut Ela, yang saat itu baru saja lulus S1 di IAIN Bandung, ilmu bahasa Inggrisnya masih kurang. “Makanya saat itu saya putuskan untuk belajar bahasa Inggris di Pare,” imbuhnya.

Ia mengambil kelas enam bulan ditambah empat bulan untuk belajar bahasa Inggris di Kediri. Saat masih belajar bahasa Inggris di Pare, Ela harus melepas kesempatannya untuk daftar tes S2. Baginya, daftar S2 bisa kapan saja.

Tidak hanya satu tempat belajar bahasa Inggris, ia mengikuti beberapa kelas di beberapa tempat kursus sekaligus. “Kuncinya adalah manajemen waktu agar tidak ada jadwal yang bentrok,” papar Ela.

Saat di Kediri itu juga, ia bertemu dengan calon suaminya, Chairil Anwar. Setelah dirasa cukup untuk belajar bahasa Inggris di Pare, ia pun kembali ke tanah kelahirannya, di Cijeruk, Kabupaten Bogor.

Ketika di Bogor, ia tidak menyia-nyiakan gelar sarjana pendidikannya itu. Ia pun mengajar di MTs dan di SMK di Bogor. Selama mengajar dua tahun di Bogor, Ela pun akhirnya dipinang. “Akhirnya saya boyongan ke Kediri,” imbuhnya.

Setelah pindah ke Kediri ia pun melanjutkan mengajar menjadi guru honorer, hingga diangkat menjadi PNS. Sampai saat ini, Ela masih mengajar mata pelajaran pendidikan akidah akhlak di MTsN 1 Kota Kediri.

Menurut Ela, saat yang tepat untuk melanjutkan mimpinya itu adalah saat anak ketiganya memasuki usia sekolah di taman kanak-kanak (TK). Akhirnya, pada tahun 2017, ia pun mendaftar program Magister PAI di IAIN Kediri.

Awalnya, ia mengirimkan enam judul proposal tesis yang ia ajukan ke Kepala Prodi. Di saat-saat terakhir, Ela menjelaskan bahwa ia mendapatkan inspirasi untuk meneliti tentang Program Pelatihan Terjemah Alquran (PPTQ) saat setelah melakukan salat Tahajud. Langsung saja, paginya ia membuat outline, dan sekitar pukul 06.00 WIB, ia selesai mengerjakan judul ketujuhnya itu. “Alhamdulillah diberi kelancaran dan diloloskan yang terakhir, tentang PPTQ,” paparnya.

Akhirnya, yang diimpikan oleh Ela pun tercapai. Penantian setelah 20 tahun ia tunggu dengan usaha, doa, dan kesabaran pun berbuah manis. Ela adalah wisudawan terbaik Pascasarjana IAIN wisuda Juni 2019.

sumber : https://radarkediri.jawapos.com/read/2019/07/01/144102/lulusan-pascasarjana-terbaik-dalam-wisuda-iain-kediri

About author

WebDev

web developer, movie lover, creative seeker, and proud to be nerd :)